Pengikut

violet's diary


ShoutMix chat widget

messages


ShoutMix chat widget
Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 08 September 2011

analisis puisi Doa Chairil anwar

Dalam puisi Doa karya Chairil anwar , menggambarkan sosok Chairil anwar yang sangat religius, yang pasrah dan berserah diri dengan Tuhan YME. Ide yang dipakai oleh Chairil anwar dituangkannya dalam sajak-sajak yang menimbulkan suatu kepribadian Chairil anwar yang sangat religius. Sajak yang dipakai olehnya juga menunjukan kepribadiannya masing-masing.

Dalam Doa berisi tentang si Aku yang merasa terasingkan dalam kebingungan meskipun pada mul;anya tokoh si Aku termangu. Tapi pada akhirnya ia datang pada Tuhan karena Tuhan itu segalanya, yang menguasai segalanya (penuh seluruh).
Dalam puisi Doa ini si aku merasa tak ada tempat lain untuk mengadukan keremukan bentuknya (jasadnya) selain kepada Tuhan YME. Dalam bait terakhir
Tuhanku
Di pintu-Mu menetuk
Aku tak bisa berpaling.
Isi bait tersebut seakan-akan menggambarkan si Aku yang tak dapat berpaling lagi dalam (kekuasaan Tuhan) setelah ia mengetuk pintu kerahmanan dan kerohimannya.

Dalam puiosi Doa ,Chairil anwar menggambarkan sosok si Aku dengan Tuhannya itu seperti ada jarak yang membentengi keduanya. Kekuasaan Tuhan digambarkan sebagai kekuatan yang mutlak , ia mencipatakan adanya sosok Hamba dan sosok Tuhan itu sebagai sosok yang berbeda. Maka Chairil anwar tidak menggambarkan sosok tihan itu sebagai sosok manusia( dapat di pancra indra), melainkan hanya kekuasaanya yang dapat dirasakan oleh si aku. Seperti terkutip pada bait
Cahya –Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi.

Dalam gaya ekspresi Chairiul anwar menggunakan gaya imajinasi. Atau mengemukakan pengertian dengan citra-citra ,gambaran-gambaran atau simbolis dan imajinasi yang dapat timbul o leh pembacanya. Seperti dalam contoh bait
Aku hilang bentuk
Remuk.


by Dian sari

biodata Chairil anwar

Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara 26 Juli 1922 - meninggal Jakarta April 28, 1949) adalah seorang penyair Indonesia dan anggota dari "generasi 1945" dari penulis. Ayahnya, Toeloes, adalah mantan bupati Indragiri, Riau. Orangtuanya bermigrasi dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Toeloes berasal dari Taeh Baruah dan ibunya Saleha dari Situjuh. [1]

Chairil dididik di sekolah Belanda, namun keluar pada usia 19. Dia pindah ke Jakarta dengan ibunya setelah orangtuanya bercerai dan mulai membaca literatur barat, yang dipengaruhi menulis sendiri dan membedakan dia dari generasi sebelumnya penulis tradisional. Puisinya diedarkan pada kertas murah selama pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak dipublikasikan sampai 1945 [2] [3].

Ini rupanya kematian neneknya yang menginspirasi Chairil menulis puisi, dan kematian menjadi tema dari banyak puisinya. Puisi-Nya dikumpulkan diterbitkan sebagai Deru Campur Debu [Roar Dicampur dengan Debu] pada tahun 1949. Pada saat itu kesehatannya sedang menderita sebagai akibat dari gaya hidupnya dan ia meninggal di Rumah Sakit CBZ (sekarang RS Cipto Mangunkusumo) pada tanggal 28 April 1949. Hari ini diperingati sebagai hari sastra di Indonesia